Don’t wish things that gonna be the same as before while I’ve changed. Where have you been when I give you a chance anyway? :] -F

2 days ago
0 notes
Harapan sering terlepas ketika tangan kita sudah lelah menggenggamnya, atau karena ada yang lebih nyata yang butuh untuk digenggam.
Aku rindu tanganmu. (via poeticonnie)
3 weeks ago
13 notes

vivianduong:

jaylomboy:

messagefromyourheartt:

handprintsinmyheart:

what is this!?

OH MY GOD I DID NOT KNOW YOU COULD DO THAT.

LOL NRWDUYSGTHF, deleting in 5

What the fuck…omg…

(via diaryofdancingqueen)

1 month ago
315,010 notes

If you want to let go someone, remember why you held on so long in the first place. Why would you hold on to something you didn’t want?

1 month ago
0 notes
Kalo aku menangis karena egoisku, maafkan, aku rindu.
Heii.. there you are playing around. I’m missing you anyway
Red. Black. White?

Red. Black. White?

3 months ago
0 notes

Hi, you.


Since I feel you’re about to go to “somewhere-too-far”, I am thanking God for the chance to spend hundreds of days and nights with you. I thank God for those times, ideas, stories, laughs, and tears we have shared. And I thank you for being you.


I will be okay as I already have the goodbye-makes-the-next-hello-closer perception in my mind. :D


Sooo
See you in the next season of “our lives! ;)

3 weeks ago
0 notes

Halo, Cuaca Hari Ini Cerah, ya …

Di perjalanan dari Borma ke rumah Dea, Teh Pucuk Harum ketemu sama Ale-ale. Pucuk Harum nggak pernah kenal sama Ale-ale. Tapi karena mereka sama-sama minuman dan warna kemasannya mirip, Pucuk Harum yakin kalo Ale-ale itu sodaranya. 

Pucuk Harum pengen nyapa Ale-ale, tapi keliatannya Ale-ale nggak begitu ramah. Jadi Pucuk Harum mikir, nyari-nyari topik pembicaraan yang cukup enak buat intro.
“Halo, cuaca hari ini cerah, ya,” sapa Pucuk Harum. Dia suka baca di buku-buku, kalo ‘cuaca cerah’ itu bahan yang bagus untuk ngebuka pembicaraan.
Ale-ale diem aja. Nggak tau nggak denger atau emang nggak mau nyautin Pucuk Harum.
Susu Bayi di sebelah Pucuk Harum tampak kasian ngeliat Pucuk Harum dicuekin. Jadi dia yang nyautin, “Lumayan cerah. Tapi liat, di sisi sana mendung, lho …”
“Oh, iya, ya …” tanggep Pucuk Harum sambil meratiin sisi yang dibilang Susu Bayi. Sebetulnya dari tadi Pucuk Harum nggak terlalu meratiin cuaca. Kata-katanya sekadar basa-basi buat ngebuka percakapan.
“Siapa nama kamu?” tanya Susu Bayi.
“Pucuk Harum. Kamu?”
“Susu Bayi.”

Setelah itu, Pucuk Harum jadi ngobrol sama Susu Bayi. Mereka nggak lagi meratiin langit dan cuaca hari itu. Nggak penting lagi hari itu cerah atau mendung. Yang mereka tau, ternyata mereka bisa jadi akrab dengan gampangnya.
“Aku kira kita nggak akan nyambung. Kita kan beda banget,” kata Pucuk Harum.
“Nggak juga, kali. Kita sama-sama dikemas di dalem botol,” kata Susu.
“Oh, iya, ya …”
“Selain itu, kamu sadar nggak kalau teh dicampur susu rasanya enak?”
“Hahaha … oh, iya.”
Karena Teh Pucuk Harum punyanya Dea dan Susu punya bayi di sebelah Dea, kedua minuman itu nggak bisa eksperimen saling mencampur. Tapi mereka berdua percaya kalo mereka cocok. Ngobrol-ngobrol dan yakin sama itu udah cukup untuk mereka berdua.
“Kayaknya Si Dea sebentar lagi turun. Kamu turun di mana?” tanya Teh Pucuk Harum ke Susu pas liat Dea udah ngerogoh-rogoh saku buat ngambil ongkos.
“Aku masih jauh.”
“Ooo … berarti kita nggak bisa barengan, ya,” kata Teh Pucuk Harum.
“Kita udah barengan. Di angkot ini.”
“Ah, iya. Hahaha …”
Teh Pucuk Harum ngeliat Si Ale-ale yang masih acuh tak acuh. Dia belum tau sebenernya Ale-ale sodaranya ato bukan. Tapi udah nggak penting juga. Sama nggak pentingnya sama kondisi cuaca yang sekadar jadi pembuka pembicaraan.
“Kiri, Pak …” Dea nyetop angkot.
“Aku duluan, ya,” pamit Teh Pucuk Harum ke Susu.
“Iya. Ati-ati,” saut Si Susu.
Teh Pucuk Harum tadinya mau pamit ke Ale-ale juga, cuma nggak jadi.
Waktu Dea turun dari angkot, ujan mulai turun rintik-rintik. Buat Dea, kali itu cuaca jadi penting meskipun nggak jadi topik pembicaraan Dea sama siapa-siapa. Dea ngegenggam botol Teh Pucuk Harum, masang capuchon jaket, terus lari-lari pulang. Untung rumah Dea udah deket.
Kadang kita bicara hal-hal yang nggak penting. Kadang yang penting justru nggak perlu dibicarain …
Sundea

1 month ago
0 notes

Could this be it?

They are lovers, destined to be strangers.
They stop seeing each other, they stop sharing every little thing, and eventually, they miss everything they used to share together.
And then the gap is coming. And then these small, silent moments that are used to be all comforting.
They become awkward.
Sometimes, you don’t need all the fights and bickering to create such circumstances.
They just happen, and all of sudden you realize that hurtful truths, that he/she is no longer there to comfort you.
And then you start to miss those little moments. And big moments. And that leave you as a stranger in his/her life.
You don’t stop loving. You dont stop caring. You just happen to be driven out of his/her life.
It’s like boiled..slowly..
-inspired by R

1 month ago
0 notes
Jodohmu pastilah orang yang menghargai ketulusan dan kebaikan hatimu, kecerdasanmu dan kegigihanmu mencari rejeki untuk keluarga.
@kikisuriki - dan saya menangis membacanya :’)

(Source: poeticonnie)

1 month ago
8 notes
Arby To The Rescue!: Void.

arbytotherescue:

Memories are like those beautiful washes of pulsating colors in the remote horizon that I thought would fade away with time. But no, they are not.

You left this existence; and the spot in my heart that you once filled now desolates with your absence. Memories of you? They are like a faint…

2 months ago
1 note

Where have you been?
Whereeee ??
Why now?

3 months ago
0 notes